"Alhamdulillah omzet yang didapat perhari berkisar Rp100 hingga Rp200 ribu," ujar Adi.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap permainan tradisional ini masih cukup tinggi, meski gempuran gadget semakin kuat di kalangan anak-anak.
“Masih banyak yang suka main layangan, apalagi kalau sore anginnya bagus. Kadang orang tua juga ikut beli, sekadar nostalgia,” tambahnya sambil merapikan deretan layangan yang dipajang.
Sementara itu, A Safari, mengaku membeli layangan untuk anaknya bermain.
"Kebetulan di dekat rumah ada lahan kosong, jadi anak bisa bermain aman tidak di jalan menganggu kendaraan yang melintas," ujarnya.
Hal itu dikatakan Safari dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengalihkan perhatian sang anak dari gadget.
"Yang penting anak bisa lepas dari gedjet, bermain dilokasi yang aman atau tidak di jalan yang dapat membahayakan anak dan pengguna jalan lainnya," terang Safari.