Deteksi Dini Gangguan Darah Penting untuk Cegah Thalasemia

Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Rumah Sakit Abdul Muthalib (tengah), Spesialis Hematologi Onkologi Rumah Sakit Medistra Aru W. Sudoyo (kedua dari kanan) dalam peresmian pusat Onkologi Rumah Sakit Medistra yang digelar di Jakarta, Kamis (27/2). -Foto : ANTARA -
“Kalau thalasemia mayor itu, tidak mungkin bisa bertahan sampai lebih dari 20 tahun karena bergantung sekali dengan transfusi darah,” jelas Abdul Muthalib.
Thalasemia mayor menyebabkan penderita harus rutin menjalani transfusi darah seumur hidup.
BACA JUGA:Nori: Rumput Laut Kering Khas Jepang yang Mendunia
BACA JUGA:Obati Radang Usus dan Amandel yang Membengkak dengan Daun Waru
Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat memperpendek usia harapan hidup penderita.
Untuk mencegah dampak serius thalasemia, Abdul Muthalib merekomendasikan pasangan yang akan menikah melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check up (MCU).
Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah salah satu atau kedua pasangan merupakan pembawa sifat thalasemia.
“Jika kedua pasangan adalah pembawa sifat thalasemia minor, maka ada kemungkinan keturunan mereka akan menderita thalasemia mayor. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting,” tegasnya.
Pemeriksaan darah dasar dapat mendeteksi kadar hemoglobin dan mengetahui apakah seseorang memiliki potensi membawa sifat thalasemia.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut, pasangan dapat mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi pada keturunan mereka.
Spesialis Hematologi Onkologi Rumah Sakit Medistra, Aru W. Sudoyo, menambahkan bahwa thalasemia berasal dari negara-negara di sekitar Laut Tengah sekitar 10-15 ribu tahun yang lalu.
Negara-negara seperti Yunani dan Siprus telah berhasil menekan angka pengidap thalasemia melalui program deteksi dini.
“Yunani, Siprus ada kewajiban bahwa semua pasangan yang mau menikah diperiksa thalasemia. Jika ditemukan pembawa sifat thalasemia, mereka diberi informasi mengenai risiko memiliki anak dengan thalasemia mayor,” jelas Aru.
Ia menambahkan bahwa sebagian pasangan di negara tersebut memilih untuk tidak memiliki anak biologis dan lebih memilih mengadopsi anak.
Program ini terbukti efektif dalam menekan jumlah pengidap thalasemia di kawasan tersebut.