Wartawan, kata Muzani, memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran sekaligus berpihak pada kepentingan publik.
Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga, meskipun seseorang telah beralih peran di bidang lain.
Muzani juga mengingatkan kembali sejarah lahirnya PWI yang sejak awal berdiri pada 1946 telah menempatkan pers sebagai bagian dari perjuangan bangsa.
BACA JUGA:PDIP Dorong Profesionalisme TNI dan Polri
BACA JUGA:Revisi UU Pilkada Ditunda
Menurutnya, wartawan disebut sebagai pejuang karena menjalankan fungsi kontrol sosial dan memperjuangkan aspirasi rakyat.
Dalam konteks kekinian, Muzani menyoroti perubahan wajah jurnalisme di era digital.
Ia menilai kehadiran warga dan kreator konten di ruang digital turut memberi kontribusi dalam menyampaikan informasi, terutama terkait isu-isu kemanusiaan dan pelayanan publik yang belum optimal.
BACA JUGA:Bawaslu dan UMI Teken MoU Perkuat Pendidikan Politik dan Demokrasi Mahasiswa
BACA JUGA:Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyampaikan apresiasi atas pandangan dan refleksi yang disampaikan Ketua MPR RI.
Ia menilai pengalaman Muzani menjadi pengingat bahwa jurnalisme sejati selalu berpijak pada nilai kebenaran, etika, dan empati sosial.
Munir menegaskan PWI terus berkomitmen menjaga warisan nilai para pendiri pers nasional, sekaligus memperkuat peran wartawan dalam mendukung demokrasi dan persatuan bangsa.
BACA JUGA:Indonesia Jalin Kerja Sama Pertahanan Bosnia
BACA JUGA:Inpres Diskresi Diminta Percepat Pemulihan Aceh
Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang menambahkan bahwa audiensi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian komunikasi PWI dengan pimpinan lembaga negara menjelang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten.