"Setiap tahun harga memang naik, tapi tahun ini lebih terasa," ujarnya.
Berdasarkan pantauan di Pasar KM 5, harga kebutuhan pokok lainnya juga mengalami kenaikan yang hampir serupa.
Harga cabai merah keriting di sana mencapai Rp50.000 per kilogram, beras medium Rp13.000 per kilogram, minyak goreng curah Rp20.000 per liter, ayam potong Rp31.000 per kilogram, dan telur Rp28.000 per kilogram.
BACA JUGA:Kolaborasi Pencegahan dan Menjaga Kebersihan : Kasus Diare Melonjak di Palembang !
BACA JUGA:Rencana Naiknya Iuran BPJS Kesehatan 2026 : Masyarkat Bakal Makin Terjepit !
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyatakan bahwa tingkat inflasi di Sumsel pada Januari 2025 tercatat sebesar 0,92 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Beberapa komoditas utama yang menyumbang inflasi adalah emas perhiasan, cabai merah, minyak goreng, cabai rawit, dan bahan bakar rumah tangga.
Namun, beberapa komoditas seperti tarif listrik, tomat, telur ayam ras, bawang merah, dan angkutan udara justru mengalami deflasi.
Kenaikan harga bahan pokok ini tentu saja membuat masyarakat khawatir, terutama para ibu rumah tangga dan pedagang kecil.
Rahmi, warga Kota Palembang, mengaku terkejut dengan lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
"Setiap menjelang Ramadhan harga pasti naik, tapi tahun ini terasa lebih tinggi. Kalau begini terus, kami harus mengurangi pembelian beberapa bahan makanan," keluhnya.
Senada dengan Rahmi, Fitri, seorang warga di kawasan KM 5, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ayam potong yang cukup signifikan sangat berdampak pada pengeluarannya.
"Dulu Rp31.000 per kilogram, sekarang Rp38.000. Kami berharap pemerintah bisa mengendalikan harga," katanya.
Arman, seorang pekerja harian, juga berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi lonjakan harga ini.
"Setidaknya ada operasi pasar atau bantuan bagi masyarakat agar kami tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Pengamat ekonomi, Yan S, menilai bahwa kenaikan harga menjelang hari keagamaan bukan lagi sebuah anomali, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang.