Tepuk Sakinah dan Pentingnya Bimbingan Bagi Calon Pengantin
Tepuk Sakinah dan Pentingnya Bimbingan Bagi Calon Pengantin-Foto: ANTARA-
KORANPALPOS.COM – Pernikahan adalah perjalanan panjang seumur hidup bagi dua insan dengan latar belakang berbeda, yang kemudian bersepakat untuk hidup bersama dalam suka dan duka.
"Hidup bersama dalam suka dan duka" adalah frasa indah penuh rasa romantis yang praktiknya, tidak semuanya mewujud nyata, seperti bait tersebut.
Faktanya, tidak sedikit pasangan itu tidak berdaya untuk mempertahankan janji suci yang mungkin tak terucap itu.
Gelombang hidup atau badai yang seringkali datang tidak terduga dalam pelayaran bahtera keluarga, membawa dua insan yang awalnya bersepakat saling mencintai itu harus menyerah pada keadaan, dengan cara berpisah.
BACA JUGA:Pejabat Diminta Bijak Gunakan Sirine dan Strobo, Hormati Pengguna Jalan
Beban jiwa dari prahara keluarga yang berujung pada perceraian itu bukan hanya menimpa lelaki dan perempuan yang mantan pasangan itu, melainkan juga menimpa anak-anak mereka.
Bahkan, anak-anak itu lebih berat menanggung beban batin akibat perceraian orang tuanya.
Anak-anak korban perceraian orang tua sering terjebak dalam rasa terabaikan, rendah diri, dan berujung pada kondisi jiwa yang terus menerus terguncang karena terlalu banyak larut dalam pikiran berlebih atau overthinking.
Kondisi kejiwaan anak-anak muda yang menjadi korban perceraian itu pada akhirnya berujung pada kondisi negara dan bangsa secara keseluruhan.
BACA JUGA:Badan Siber dan Sandi Negara Dukung Keamanan Siber Ajang MotoGP Indonesia
BACA JUGA:PKK Sumsel Galakkan Kemandirian Pangan dari Pekarangan Rumah
Mereka yang seharusnya menjadi pemegang estafet perjalanan panjang bangsa ini tumbuh menjadi generasi yang kurang tangguh, bahkan ikut memperpanjang kerapuhan keluarga di masa berikutnya, ketika mereka yang belum selesai dengan dirinya, juga harus memasuki masa berumah tangga.
Teori psikologi menyebutkan bahwa anak-anak yang dulunya menjadi korban, pada akhirnya juga menjadi pelaku.