Dari pelatih lapangan, pakar medis pun penting untuk dilibatkan.
Seorang pakar medis dr. Adrian Setiaji, Sp.KFR, AIFO-K, atau yang akrab disapa Dokter Medok yang kerap terlibat dalam pendampingan pelatihan berpendapat, kunci keberhasilan pelari bukan hanya soal kecepatan dan ketahanan, tetapi juga tentang manajemen tubuh.
Aktivitas lari jarak jauh memerlukan asupan energi, hidrasi, dan mineral yang tepat agar otot bekerja optimal dan risiko cedera bisa ditekan.
“Peran mineral sangat penting dalam menjaga metabolisme otot dan performa. Tanpa keseimbangan cairan dan nutrisi, tubuh bisa kehilangan kemampuan adaptasi terhadap beban latihan,” ujarnya.
Pendekatan berbasis sains seperti ini membuat para peserta tidak hanya siap fisik, tetapi juga lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Keterlibatan berbagai pihak menciptakan ekosistem yang saling mendukung.
Bagi peserta, pengalaman ini bukan hanya tentang mencapai catatan waktu terbaik, tetapi tentang menemukan ruang belajar, membangun kepercayaan diri, dan berjejaring dengan komunitas.
Novi, salah satu peserta program yang menargetkan menyelesaikan Virgin Full Marathon dalam waktu 4 jam 30 menit, mengungkapkan betapa besar manfaat pendampingan ini.
Seorang coach akan mengarahkan latihannya dengan detail. Sehingga seseorang bisa lebih percaya diri karena tahu setiap sesi latihan punya tujuan yang jelas.
“Ini tentang mempersiapkan tubuh dan pikiran agar kuat sampai garis finish,” tuturnya.
Cerita Novi mewakili semangat banyak pelari lain yang melihat ajang kompetisi lari sebagai momentum untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa batasan bisa ditaklukkan.
Di sisi lain, muncul kebutuhan lebih besar untuk memastikan ekosistem ini tumbuh secara merata.
Masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki fasilitas lari memadai, jalur latihan yang aman, atau akses edukasi terkait olahraga jarak jauh.
Padahal, meningkatnya minat masyarakat terhadap maraton bisa menjadi peluang besar untuk membangun budaya olahraga yang inklusif. Kolaborasi antara komunitas, sektor swasta, dan pemerintah menjadi kunci untuk mengisi kesenjangan ini.
Program seperti pelatihan menjelang event besar menunjukkan bagaimana sebuah inisiatif bisa mendorong kesadaran publik, sekaligus membuka ruang partisipasi lebih luas bagi berbagai kelompok masyarakat.
Jakarta Running Festival 2025 memang menjadi salah satu contoh dari sekian banyak titik penting ajang serupa yang mendorong makin banyak lahirnya generasi baru pelari Indonesia.