Namun, meskipun mereka telah memeluk agama, beberapa tradisi dan kepercayaan nenek moyang masih bertahan hingga saat ini.
Praktik okultisme dan animisme, seperti berkonsultasi dengan dukun atau ahli nujum, masih dilakukan oleh sebagian masyarakat ketika menghadapi masalah atau kesulitan.
Hal ini menunjukkan adanya perpaduan antara ajaran agama dan tradisi lokal yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Sebagian besar masyarakat Sekayu menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Mereka menanam padi sawah dan padi ladang sebagai komoditas utama.
Selain itu, mereka juga menanam berbagai tanaman pangan seperti ubi kayu, jagung, kacang tanah, dan kedelai.
Di sektor perkebunan, tanaman karet, cengkeh, dan kopi menjadi andalan ekonomi masyarakat.
Kerajinan tradisional juga menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat Sekayu.
Batu bata dan genteng yang dihasilkan oleh industri rumahan menjadi produk unggulan dari wilayah ini.
Produk-produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga dipasarkan ke wilayah lain.
Selain itu, beberapa anggota komunitas Sekayu yang bermukim di Palembang telah berhasil meniti karier di berbagai sektor penting.
Mereka bekerja sebagai guru, dosen universitas, ahli riset, pengembang lahan, hartawan, dan pekerja galangan.
Keberhasilan mereka menunjukkan kemampuan masyarakat Sekayu dalam beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa melupakan akar budaya mereka.
Suku Sekayu juga memiliki kekayaan budaya yang menjadi ciri khas mereka.
Mulai dari tradisi lisan, seni pertunjukan, hingga upacara adat, semua mencerminkan identitas unik masyarakat ini.
Salah satu tradisi yang masih dijalankan adalah kegiatan gotong royong, yang mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat solidaritas dalam komunitas.
Kegiatan adat seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian juga masih dilakukan dengan mengikuti tata cara tradisional.