Keberagaman Kecerdasan Jadi Kebutuhan Era Modern

Kegiatan Mensa Indonesia Intelligence Day yang digelar di Binus University, Bekasi, dengan tagline “I’m SMART in my own way”. -Foto: ANTARA-

KORANPALPOS.COM - Selama bertahun-tahun, masyarakat cenderung memandang kecerdasan melalui ukuran yang sempit.

Nilai rapor, prestasi akademik, peringkat kelas, hingga skor tes intelegensi atau IQ sering dianggap sebagai penentu utama apakah seseorang cerdas atau tidak.

Cara pandang ini memang membantu menyederhanakan proses penilaian, tetapi pada saat yang sama berisiko mengabaikan begitu banyak potensi manusia yang tidak selalu tampak di ruang kelas.

BACA JUGA:Kader NU Diminta Jadi Penggerak Toleransi

BACA JUGA:Jemaah Haji Padati Masjidil Haram untuk Tawaf Wada, Suasana Haru Warnai Perpisahan dengan Kakbah

Padahal, kehidupan modern menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang sering kali lahir dari perpaduan kemampuan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan akademik.

Gagasan inilah yang mengemuka dalam acara Mensa Indonesia Intelligence Day yang digelar di Binus University, Bekasi, belum lama ini dengan mengangkat tema “Diversity in Intelligence” dan tagline “I’m SMART in my own way”.

Ajang itu menegaskan bahwa kecerdasan manusia tidak lagi dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang, terutama di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat.

BACA JUGA:Jaga Kekebalan Tubuh dan Atasi Peradangan dengan Tepung Ubi Jalar

BACA JUGA:Polisi Lumpuhkan Dua Kerbau Kurban yang Lepas dan Mengamuk di Jalanan

Sebab, transformasi teknologi, perubahan pola kerja, perkembangan kecerdasan buatan, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks menuntut manusia memiliki kemampuan yang beragam.

Kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, memimpin, berkolaborasi, mengelola emosi, hingga menghadapi tekanan kini sering kali sama pentingnya dengan kemampuan kognitif. 

Karena itu, memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang multidimensional menjadi kebutuhan yang semakin relevan pada masa sekarang.

Menariknya, forum tersebut tidak hanya dihadiri kalangan tertentu. Lebih dari 200 peserta yang terdiri atas siswa SMA, mahasiswa, orang tua, pendidik, profesional muda, hingga masyarakat umum hadir untuk mendiskusikan masa depan kecerdasan manusia.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan