Transformasi Budaya Kerja Berbasis WFH
Transformasi Budaya Kerja Berbasis WFH-Foto: Istimewa-
Hak memutus kontak digital ini sangat penting guna menjaga kesehatan mental para pekerja.
Beberapa negara lain bahkan menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu.
Di Inggris, uji coba skala besar menunjukkan bahwa 92% perusahaan memilih melanjutkan skema kerja fleksibel tersebut.
Hasilnya terjadi penurunan angka pengunduran diri pegawai dan penghematan biaya rekrutmen. Indonesia memilih skema WFH satu hari sepekan sebagai bentuk transisi moderat, berorientasi pada hasil terukur.
Data PT PLN memberikan gambaran kalkulatif potensi efisiensi listrik.
Sektor perkantoran memiliki beban listrik tinggi pada siang hari, terutama untuk penggunaan pendingin udara sentral dan pencahayaan gedung.
Jika diasumsikan terdapat 50.000 gedung non-esensial menerapkan WFH, maka penghematan beban listrik diperkirakan mencapai 200 kWh per gedung setiap hari. Ini merupakan angka penghematan yang sangat fantastis bagi negara.
Dengan hitung-hitungan tarif listrik Rp1.500 per kWh, maka penghematan tagihan listrik nasional mencapai Rp15 miliar per hari. Potensi anggaran belanja barang bisa dihemat sebesar Rp780 miliar setahun.
Angka ini menunjukkan pengurangan beban di pusat bisnis jauh lebih besar daripada kenaikan beban di pemukiman.
Penggunaan energi di kantor bersifat masif dan terpusat sehingga efisiensinya sangat terasa.
Sementara di sektor transportasi efisiensi dapat ditekan luar biasa melalui WFH. Berdasar kalkulasi mentah, pengurangan mobilitas pekerja secara serentak berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar minyak secara nasional.
Estimasi pemerintah menunjukkan terdapat sekitar 5 juta kendaraan mobil dan motor tidak bergerak untuk urusan komuting.
Hal ini mengurangi kepadatan lalu lintas dan menghemat cadangan energi fosil kita.
Jika satu kendaraan rata-rata menghemat 2 liter BBM, maka terjadi pengurangan konsumsi 10 juta liter BBM per hari.
Ini merupakan langkah nyata dalam melakukan penghematan sumber daya alam.