Bijak Mengelola Keuangan di Bulan Ramadan, Wujud Nyata Pengendalian Diri
Ilustrasi mutiara ramadan-Foto : Istimewa-
KORANPALPOS.COM - Ramadhan adalah bulan yang selalu kita nantikan. Bulan penuh ampunan, penuh pahala, dan penuh kesempatan untuk memperbaiki diri.
Di dalamnya ada ibadah puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kita untuk mengendalikan diri.
Puasa sejatinya bukan sekadar menahan makan dan minum.
Ia mengajarkan kita menahan hawa nafsu, termasuk nafsu berlebihan dalam membelanjakan harta.
BACA JUGA:Kisah Qais bin Shirmah dan Turunnya QS Al-Baqarah 187 tentang Aturan Puasa Ramadan
BACA JUGA: Ramadan Menyenangkan dan Menenangkan, Momentum Meraih Takwa
Jika siang hari kita mampu menahan lapar, maka seharusnya kita juga mampu menahan keinginan yang tidak perlu.
Di Indonesia, Ramadhan terasa begitu istimewa. Ada tradisi membangunkan sahur, ngabuburit mencari takjil, tadarus di masjid, hingga berburu baju baru menjelang Idul Fitri.
Semua itu indah dan menghidupkan suasana. Namun tanpa disadari, euforia ini sering membuat pengeluaran meningkat drastis.
Belanja takjil berlebihan hingga terbuang, memasak lauk terlalu banyak saat sahur, atau terlalu sering memesan makanan online padahal bisa memasak sendiri, semua itu contoh kecil yang lama-lama menjadi besar.
BACA JUGA:Kisah Abu Lubabah: Khianat, Penyesalan, dan Tobat yang Diterima
BACA JUGA: Jejak Panjang Kepemimpinan Ali Khamenei : Dari Revolusi 1979 hingga Konflik Global !
Akhirnya, setelah Ramadhan usai, kita justru mengeluh karena keuangan terkuras.
Padahal Islam sudah mengingatkan dengan sangat tegas. Dalam Al-Qur’an, tepatnya QS. Al-Isra’ ayat 26–27, Allah berfirman yang artinya “Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.