Cahaya Merah Pembawa Harapan : Filosofi Lampion yang Menghidupkan Semarak Imlek
Cahaya Merah Pembawa Harapan : Filosofi Lampion yang Menghidupkan Semarak Imlek-foto : tangkapan layar ig, joustoree--
UNIK, KORANPALPOS.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan berbagai simbol khas yang sarat makna salah satunya adalah lampion.
Ornamen bercahaya ini kerap menghiasi rumah, klenteng, pusat perbelanjaan hingga jalan-jalan utama saat Imlek tiba.
Kehadiran lampion bukan sekadar dekorasi melainkan memiliki nilai sejarah, filosofi dan budaya yang mendalam dalam tradisi Tionghoa.
Lampion, yang dalam bahasa Mandarin disebut denglong telah digunakan sejak ribuan tahun lalu.
BACA JUGA:Tradescantia, Tanaman Hias Cantik yang Mudah Tumbuh di Media Air
BACA JUGA:Segera Tayang di Bioskop, Inilah Sinopsis Film Horor Asrama Putri!
Sejarah mencatat bahwa lampion pertama kali muncul pada masa Dinasti Han sebagai alat penerangan.
Seiring waktu, fungsinya berkembang menjadi simbol budaya dan spiritual terutama dalam perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh.
Dalam tradisi Imlek, lampion melambangkan cahaya, harapan dan jalan menuju keberuntungan.
Cahaya lampion dipercaya mampu mengusir energi negatif serta membawa suasana hangat dan penuh sukacita.
BACA JUGA:Tempoyak : Olahan Fermentasi Durian Khas Nusantara yang Kaya Cita Rasa
BACA JUGA:Khusus yang Kuat Mental, Ini Dia 5 Film Horor yang Akan Tayang di Bulan Februari 2026!
Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa kerap menggantung lampion di depan rumah sebagai harapan agar tahun yang baru dipenuhi kebahagiaan, kesehatan dan rezeki yang lancar.
Warna lampion juga memiliki makna tersendiri. Lampion berwarna merah merupakan yang paling umum digunakan saat Imlek.
Warna merah dalam budaya Tionghoa melambangkan keberanian, kebahagiaan dan keberuntungan.
Selain merah, lampion emas atau kuning juga sering dijumpai karena dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kejayaan.
BACA JUGA:Film Waru Siap Menghantui Pengunjung Bioskop pada 12 Februari 2026, Berikut Sinopsisnya!